Tampilkan postingan dengan label Multiple Intelligence. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Multiple Intelligence. Tampilkan semua postingan

Ide Awal menggagas Multiple Inteligence

Pada 1904, Kementerian Pendidikan Prancis di Paris minta psikolog Prancis, Alfred Binet, dan sekelompok psikolog untuk mengembangkan suatu alat untuk menentukan siswa SD yang “beresiko” mengalami kegagalan. Mencari tahu siapa saja anak yang memang benar-benar bermasalah dan tidak mampu mengikuti pelajaran karena alasan “cacat mental” dan siapa yang tidak bisa mengikuti pelajaran karena alasan lain.

Anak-anak yang cacat mental ini nantinya akan ditempatkan di kelas khusus dan mendapat penanganan khusus sesuai dengan kondisi mereka. Tujuannya adalah agar mereka tetap bisa menikmati pendidikan yang layak demi masa depan mereka.

Berangkat dari pemikiran ini, Alfred Binet dkk merancang suatu tes kecerdasan yang dikenal dengan nama tes IQ. Tes ini banyak diadopsi oleh berbagai negara termasuk Indonesia. Tes IQ ini kemudian dijadikan satu-satunya tes yang dapat mengukur tingkat kecerdasan seseorang. Oleh karena itu tes IQ ini seperti menjadi penentu apakah anak itu sukses atau tidak. Hal ini disebabkan adanya anggapan kalau hanya anak yang pintar saja yang akan berhasil atau sukses.

Lalu kemudian timbul efek yang luar biasa terhadap tumbuh kembang anak. Anak yang mempunyai nilai IQ tinggi disebut sebagai anak jenius sedangkan anak yang mempunyai nilai IQ rendah akan dinilai sebagai anak yang bodoh.

Anak yang IQ-nya tinggi akan semakin bersemangat untuk belajar. Karena dirinya yakin kalau dia bisa menguasai materi dengan cepat dan akan menjadi orang yang berhasil di masa depan. Selain itu guru-gurunya juga senang dengan anak ini, karena gurunya punya harapan yang tinggi terhadap anak ini. Sehingga menjadikan anak ini bisa tumbuh dan berkembang dengan maksimal.

Yang mengenaskan adalah anak yang nilai IQ-nya rendah. Dia secara tidak sadar akan mudah putus asa, karena merasa dirinya anak yang bodoh atau biasa-biasa saja. Sehingga mengakibatkan dia suka bermalas-malasan, karena menurut dia percuma belajar toh aku ini anak bodoh dan tidak akan sukses. Lebih lagi pandangan guru sama anak dengan nilai IQ rendah sangat buruk. Guru tidak punya harapan terlalu tinggi terhadap anak ini. Karena percuma saja mengajar anak dengan IQ rendah, materi yang diajarkan tidak akan masuk. Parahnya lagi kalau si guru mengatakan kalau si anak tidak mempunyai masa depan yang cerah. Jadinya gurunya ogah-ogahan mengajar anak ini. Sehingga hasilnya bisa diperkirakan, anak tadi tidak akan bisa tumbuh dan berkembang dengan maksimal.

Delapan puluh tahun setelah tes IQ dikembangkan, Howard Gardner mempersoalkan pengertian kecerdasan yang disebabkan dari hasil tes IQ. Gardner mengatakan bahwa penafsiran kecerdasan di kebudayaan kita sangat sempit. Gardner juga tidak menginginkan anak-anak tidak bisa tumbuh dan berkembang dengan maksimal karena adanya tes IQ. Maka dari itu, Gardner melakukan penelitian tentang kecerdasan bersama teamnya di Harvard Project Zero.Hasilnya, Gardner mengemukakan bahwa sekurang-kurangnya ada tujuh kecerdasan dasar yang dimiliki oleh manusia. Hasil temuannya ini dipublikasikan dalam bukunya yang berjudul frames of mind. Belum lama berselang, dia menambahkan kecerdasan kedelapan dan membahas kemungkinan adanya kecerdasan kesembilan. Teori ini kemudian dikenal dengan multiple intelligence.

Pada intinya, Gardner ingin mengajak kita semua kalau kita tidak boleh menilai kecerdasan anak hanya dari nilai IQ-nya saja. Karena mereka memiliki banyak kecerdasan. Jadi kita tidak boleh menilai anak hanya dari satu kecerdasan saja.


Gardner mengingatkan kita untuk melihat bahwa setiap anak itu unik dan mempunyai kelebihan masing-masing yang tidak sama satu dengan yang lain. Jadi kita jangan sekali-kali membandingkan anak kita dengan orang lain atau membandingkan anak kita dengan saudaranya. Karena dengan begitu kita bisa membangun konsep diri anak dengan baik. Selain itu, gardner juga mengemukakan, terlebih buat guru, untuk mengajar dan menilai kinerja siswanya dengan cara yang berbeda sesuai dengan kecerdasan yang dimiliki oleh siswa. Orang dengan kecerdasan visual akan cepat menangkap materi pelajaran jika disajikan dengan gambar. Orang dengan kecerdasan musikal dominan akan cepat menangkap materi pelajaran jika disajikan dengan musik. Jika kalau kita menggunakan semua kecerdasan dari 8 kecerdasan pada proses belajar mengajar, maka sebetulnya kita sedang memberikan materi dari 8 jalan yang berbeda.

Terakhir, Gardner menganjurkan supaya membebaskan anak untuk mengaktualisasi dirinya. Biarkan mereka untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan minatnya. Karena kalau mereka menekuni hal yang sesuai dengan minatnya, mereka akan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh. Dan akan menghasilkan hasil yang luar biasa.

Contohnya adalah Bill Gate, bos dari Microsoft. Dia dulu sangat minat dengan komputer dan mendalaminya dengan sungguh-sungguh. Hasilnya bisa dilihat sendiri sekarang. Dia sekarang menjadi salah satu orang terkaya di dunia. Dan salah satu hasil karyanya Operating Sistem (OS) Windows, menjadi salah satu OS yang banyak digunakan di dunia terlebih lagi di Indonesia.

Ilustrasi multiple intelligence

Dalam bukunya yang berjudul "In Their Own Way: Discovering and Encouraging Your Child's Multiple Intelligences", Thomas Armstrong mencoba mengilustrasikan teori multiple intelligence dengan cerita menarik tentang sekolah hewan. Ceritanya bisa dibaca dibawah ini :

Pelajaran dari Sekolah Para Hewan

alkisah, terbetiklah sebuah kabar yang menggegerkan langit dan bumi. Kabar itu berasal dari dunia binatang. Menurut cerita, para binatang besar ingin membuat sekolah untuk para binatang kecil. Mereka, para binatang besar itu, berencana menciptakan sebuah sekolah yang di dalamnya akan diajarkan mata pelajaran memanjat, terbang, berlari, berenang, dan menggali.

Anehnya, mereka tidak dapat mengambil kata sepakat tentang subjek mana yang paling penting. Mereka akhirnya memutuskan agar semua murid mengikuti seluruh mata pelajaran yang diajarkan. Jadi, setiap murid harus mengikuti mata pelajaran memanjat, terbang, berlari, berenang, dan menggali.

Sekolah pun dibuka dan menerima murid dari berbagai pelosok hutan. Pada saat-saat awal dikabarkan bahwa sekolah berjalan lancar. Seluruh murid dan pengajar di sekolah itu menikmati segala kebaruan dan keceriaan. Hingga tibalah pada suatu hari yang mengubah keadaan sekolah itu.

Salah satu murid bernama Kelinci. Kelinci jelas adalah binatang yang piawai berlari. Ketika mengikuti kelas berenang, Kelinci ini hampir tenggelam. Pengalaman mengikuti kelas berenang ternyata mengguncang batinnya. Lantaran sibuk mengurusi pelajaran berenang, si Kelinci ini pun tak pernah lagi dapat berlari secepat sebelumnya.

Setelah kasus yang menimpa Kelinci, ada kejadian lain yang cukup memusingkan pengelola sekolah. Ini melanda murid lain bernama Elang. Elang, jelas, sangat pandai terbang. Namun, ketika mengikuti kelas menggali, si Elang ini tidak mampu menjalankan tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Akhirnya, ia pun harus mengikuti les perbaikan menggali. Les itu ternyata menyita waktunya sehingga ia pun lupa cara terbang yang sebelumnya sangat dikuasainya.

Demikianlah, kesulitan demi kesulitan ternyata melanda juga ke diri binatang-binatang lain, seperti bebek, burung pipit, bunglon, ular, dan binatang kecil lain. Para binatang kecil itu tidak mempunyai kesempatan lagi untuk berprestasi dalam bidang keahlian mereka masing-masing. Ini lantaran mereka dipaksa melakukan hal-hal yang tidak menghargai sifat alami mereka.

Dari cerita ini, sebenarnya Thomas amstrong ingin mengatakan kalau tiap anak punya kecerdasan yang unik dan masing-masing anak tidak sama. Kalau kita memaksakan kehendak supaya anak kita bisa menguasai semua materi, maka kita sebenarnya kita menghambat anak kita untuk berkembang sesuai dengan keahliannya. Jadi mari kita bebaskan anak kita untuk mengeksplor dirinya sendiri. Dan biarkan mereka berkembang sesuai dengan minat dan bakat mereka.

Sumber :

Amstrong, Thomas. Sekolah Para Juara. Kaifa, Bandung (2002)

_______________. In Their Own Way: Discovering and Encouraging Your Child's Multiple Intelligences. Tarcher/Putnam, New York (1987)

Gunawan, Adi W. Born To Be Genius. Gramedia Pustaka Tama, Jakarta (2003)

______________. Genius Learning Strategi. Gramedia Pustaka Tama, Jakarta (2003)


<< Kembali

Macam-macam Multiple Inteligence

Kecerdasan ini dicetuskan oleh Prof. Howard Gardner dari Harvard. Menurut Gardner manusia mempunyai lebih dari satu kecerdasan. Teori kecerdasan Gardner mengatakan bahwa manusia paling tidak memiliki delapan kecerdasan, yaitu : Linguistik, logika-matematika, intrapersonal, interpersonal, musical, naturalis, visual-spasial, dan kinestetik.


Kecerdasan Linguistik

Kecerdasan Linguistik adalah kemampuan untuk menggunakan kata-kata secara efektif, baik secara lisan maupun tulisan. Kecerdasan ini mencakup kemampuan untuk menangani struktur bahasa (sintaksis), suara (fonologi) dan arti (semantik).

Kemampuan mempelajari bahasa ada dalam diri setiap anak. Tidak peduli anak itu lahir di mana dan dari suku bangsa atau negara apa, apabila ia mendapat rangsangan auditori, anak akan mampu berbicara dengan bahasa yang digunakan di komunitasnya. Rangsangan auditori ini tentunya adalah bahasa yang digunakan orangtuanya.


Untuk bisa berhasil dalam mempelajari suatu bahasa, mutlak dibutuhkan suatu lingkungan yang penuh dukungan, yang memperbolehkan terjadinya kesalahan dalam proses pembelajaran, lingkungan yang menyenangkan dan menantang. Lingkungan seperti ini sangat menentukan kecepatan dan keberhasilan penguasaan suatu bahasa, pada masa-masa puncak daya serap dan kemampuan anak mempelajari bahasa ibunya.

Kecerdasan linguistik mencakup kepekaan terhadap arti kata, urutan kata, suara, ritme dan intonasi dari kata yang diucapkan. Termasuk kemampuan untuk mengerti kekuatan kata dalam mengubah kondisi pikiran dan menyampaikan informasi.

Anak dengan kecerdasan linguistik yang terasah dengan baik akan menunjukkan kesukaan dalam bermain dan manipulasi kata. Mereka biasanya mempunyai perbendaharaan kata yang luas. Mereka menyukai puisi, rima, permainan kata, dan pintar mengekspresikan diri mereka melalui bahasa tulisan maupun lisan.

Kecerdasan Matematika dan Logika

Orang dengan kecerdasan matematika dan logika yang berkembang adalah orang yang mampu memecahkan masalah, mampu memikirkan dan menyusun solusi dengan urutan yang logis. Mereka suka angka, urutan, logika dan keteraturan. Mereka dapat mengerti pola dan hubungan serta mampu melakukan proses berpikir deduktif dan induktif.

Menurut Gardner, model perkembangan kognitif yang dicetuskan oleh Jean Piaget secara garis besar sebenarnya merupakan gambaran dari pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan matematika dan logika. Jadi, mulai dari interaksi anak dengan obyek dalam ruang dan waktu, melalui pengenalan akan angka dan perkembangan pemahaman akan simbol abstrak dan kemampuan untuk memanipulasi simbol tersebut dan implikasi dari hipotesis. Sebenarnya di sini kita dapat melihat suatu evolusi dari kecerdasan matematika dan logika.

Anak dengan kecerdasan matematika dan logika yang terasah dengan baik akan suka sekali dalam mencari penyelesaian suatu masalah, menunjukkan minat yang besar terhadap analogi dan silogisme. Mereka suka aktivitas yang melibatkan angka, urutan, pengukuran dan perkiraan.

Kecerdasan Visual dan Spasial

Kecerdasan visual dan spasial adalah kemampuan untuk melihat dan mengamati dunia visual-spasial secara akurat, dan kemudian bertindak atas persepsi tersebut. Kecerdasan ini melibatkan kesadaran akan warna, garis, bentuk, ruang, ukuran, dan juga hubungan di antara elemen-elemen tersebut.

Jenis kecerdasan ini sangat menonjol dalam diri pemain catur, navigator, arsitek maupun desainer. Penyelesaian masalah dengan kecerdasan ini melibatkan kemampuan untuk melihat obyek dari berbagai sudut pandang, memanipulasi gambar secara tiga dimensi dalam ruang dan waktu. Hemisfir kanan atau otak kanan berperan besar dalam mengendalikan kegiatan ini. Orang yang mengalami kerusakan pada hemisfir kanan sering kehilangan kemampuan untuk mengenali wajah atau tempat, tidak mampu bergerak leluasa di antara benda atau obyek atau menemukan jalan untuk mencapai suatu tempat. Sering kali mereka juga sulit untuk "melihat" melalui mata pikiran mereka (imajinasi).

Kecerdasan visual dan spasial sangat jelas terlihat pada anak-anak. Kemampuan ini terlihat dengan sangat jelas saat anak bermain dengan melibatkan imajinasi mereka. Pernahkah anda melihat anak bermain beberapa peran sekaligus, saling berkomunikasi atau main rumah-rumahan dan pasar-pasaran? Sebenarnya saat mereka bermain mereka sedang menggunakan kecerdasan visual dan spasial. Saat kanak­ - kanak adalah masa yang paling mudah untuk mengembangkan kecerdasan ini. Sering kali seiring dengan pertambahan usia kita telah mulai kehilangan kemampuan ini, kemampuan untuk menggunakan imajinasi atau visualisasi. Tapi ada kabar baik. Kemampuan atau kecerdasan ini, seperti juga kecerdasan lainnya, dapat kita latih dan kembangkan. Tidak jadi masalah berapa usia kita saat ini.

Hasil riset menunjukkan bahwa kemampuan untuk membentuk suatu gambar mental (baca: imajinasi atau visualisasi) melibatkan suatu proses aktivasi rangkaian elektro-kimiawi di otak yang efeknya soma bila kita melihat benda yang nyata. Jadi, baik kita melihat sesuatu yang riil otaukah kita melihat hanya dengan mata pikiran, efek yang timbul akan sama. Hal ini menjelaskan mengapa hanya dengan membayangkan makan jeruk yang masam akan membuat air liur keluar. Efeknya persis soma dengan makan jeruk yang sesungguhnya.

Orang yang telah mengembangkan kecerdasan visual dan spasial mereka dengan baik akan mampu untuk menciptakan kembali gambar dari kejadian atau obyek yang pernah mereka alami, termasuk mengingat kembali emosi yang berhubungan dengan pengalaman mereka.

Kecerdasan Musik

Kecerdasan musik adalah kemampuan untuk menikmati, mengamati, membedakan, mengarang, membentuk dan mengekspresikan bentuk-bentuk musik. Kecerdasan ini meliputi kepekaan terhadap ritme, melodi dan timbre dari musik yang didengar.

Otak kanan kita mengendalikan persepsi dan penciptaan musik. Musik adalah bahasa universal. Dalam setiap suku bangsa di dunia ini, musik selalu hadir menjadi bagian yang tidak bisa terpisahkan dari identitas mereka. Bakat musik muncul pada usia yang sangat dini. Banyak contoh klasik yang dapat kita temui yang membuktikan hal ini. Mozart adalah salah satu contoh yang paling mudah kita ingat.

Musik mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan kemampuan matematika dan ilmu sains dalam diri seorang anak. Murid di suatu sekolah vokal, yang mayoritas kurikulumnya adalah tentang seni dan suara, ternyata menun jukkan kemampuan yang tinggi dalam bidang matematika. Banyak peneliti yang percaya bahwa kemampuan di bidang matematika dan ilmu sains ini berkembang karena murid sejak kecil telah dilatih memanipulasi nada suara, tempo, ritme, dan mengerti hubungan di antara simbol atau notasi musik.

Saat dilakukan survei di 17 negara terhadap kemampuan anak didik, usia 14 tahun, dalam bidang sains, ditemukan bahwa anak dari negara Belanda, Jepang dan Hongaria mempunyai prestasi tertinggi di dunia. Seat diteliti lebih mendalam ternyata ketiga negara ini memasukkan unsur seni dan musik secara intensif ke dalam kurikulum mereka. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian Dr. Mark Tramko, ahli saraf dari Harvard Medical School, yang membuktikan adanya tumpang tindih pada sel otak yang memproses musik, bahasa, logika-matematika dan abstract-reasoning.

Penggunaan musik di dalam kelas dapat membantu menciptakan mood atau suasana yang mendukung proses pembelajaran. Musik dapat menciptakan suasana yang rileks namun waspada. Musik dapat juga membangkitkan semangat.

Anak dengan kecerdasan musik yang berkembang akan suka bernyanyi, menyukai ritme musik, puisi, jingle, dan membuat suara-suara yang tidak berarti namun sangat mereka sukai. Mereka dapat belajar dengan lebih maksimal bila musik menemani proses pembelajaran mereka. Mereka dapat membuat lagu dan memasukkan informasi yang ingin mereka pela jari ke dalam lagu tersebut.

Kecerdasan Interpersonal

Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan untuk mengamati dan mengerti maksud, motivasi dan perasaan orang lain. Kecerdasan ini juga melibatkan kepekaan pada ekspresi wajah, suara, dan gerakan tubuh dari orang lain dan mampu memberikan respons secara efektif dalam berkomunikasi.

Saat kecerdasan personal, interpersonal dan intrapersonal digunakan, maka dalam operasinya kecerdasan personal ini cenderung mengaktifkan dan menggunakan bentuk kecerdasan lainnya.

Kecerdasan interpersonal adalah suatu kemampuan untuk masuk ke dalam diri orang lain, mengerti dunia orang lain, mengerti pandangan, sikap, kepribadian dan karakter orang lain. Dengan menggunakan kecerdasan interpersonal, kita akan mampu mengamati perubahan kecil yang terjadi pada mood, perilaku, motivasi dan perhatian orang lain. Mereka yang berhasil mengembangkan kecerdasan ini dengan sangat baik akan sangat mudah untuk menjadi seorang ahli terapi, konselor, guru, penjual, pembimbing atau mentor dan pembicara publik.

Murid dengan kecerdasan interpersonal yang berkembang dengan baik akan sangat menikmati kegiatan kelompok dan collaborative learning. Mereka juga sangat suka dengan kegiatan yang mengharuskan mereka melakukan pengamatan interaksi manusia, melakukan wawancara dengan orang dewasa, menetapkan aturan kelas, menentukan dan membagi tugas dan tanggung jawab dan mengikuti permainan yang melibatkan upaya menyelesaikan suatu konflik.

Kecerdasan Intrapersonal

Berbeda dengan kecerdasan interpersonal, yang sangat berhubungan dengan diri orang lain, kecerdasan intrapersonal adalah kecerdasan yang berhubungan dengan kesadaran dan pengetahuan tentang diri sendiri. Kecerdasan ini melibatkan kemampuan untuk secara akurat dan realistis menciptakan gambaran mengenai diri sendiri (kekuatan dan kelemahan), kesadaran akan mood atau kondisi emosi dan mental diri sendiri, kesadaran akan tujuan, motivasi, keinginan, proses berpikir dan kemampuan untuk melakukan disiplin diri, mengerti diri sendiri dan harga diri.

Dengan kecerdasan ini selain mampu untuk mengerti perasaan, emosi, motivasi diri sendiri, menilai dan mempertimbang kan proses berpikir, kita juga dapat menyimpulkan tindakan atau perilaku apa yang akan mengikuti semua proses internal ini. Semakin kita dapat menyadari dan membawa perasaan dan emosi kita ke level pemikiran sadar, kita akan semakin baik dalam berhubungan dengan dunia di luar diri kita. Orang dengan kecerdasan intrapersonal yang kuat adalah orang yang mampu memotivasi dirinya sendiri, memiliki tingkat pemahaman yang tinggi dan akurat terhadap dirinya sendiri dan sangat menghargai nilai dan etika moral.

Riset di bidang metakognisi (berpikir mengenai proses berpikir) telah menghasilkan sangat banyak strategi untuk meningkatkan pola berpikir kita. Salah satu teknik yang sangat efektif adalah dengan menggunakan Neuro Linguistic Programming (NLP). Dalam NLP terdapat sangat banyak teknik yang sangat bagus dan memiliki efek perubahan yang bersifat segera.

Orang dengan kecerdasan intrapersonal yang berkembang baik akan suka menggunakan jurnal atau diari untuk mencatat hal-hal penting yang ada dalam pikiran mereka dan membantu mereka dalam proses pembelajaran. Selain itu mereka juga dapat bekerja secara mandiri. Mereka kadang terlihat malu dan agak introvert atau tertutup.

Ada perbedaan cukup besar yang terjadi dalam anak laki-­laki dibandingkan dengan anak perempuan dalam hal perkembangan kecerdasan intrapersonal. Banyak anak laki mengalami perkembangan kecerdasan intrapersonal yang lebih lambat karena mereka sedikit agak terlambat dalam perkembangan kemampuan linguistik. Anak laki bertumbuh dan berkembang dengan penekanan pada kemampuan bertindak, bukan berbicara. Sering kali kita menjumpai anak laki yang dituntut untuk "kuat", tidak boleh cengeng, harus mampu mengatasi perasaan mereka. Mereka jarang diberi kesempatan untuk mengekspresikan perasaan atau emosi mereka. Bahkan mereka mungkin tidak mengerti kata yang harus digunakan untuk men jelaskan emosi mereka seperti march, sedih, kecewa, jengkel, frustrasi, sakit hati, bosan, jenuh, tersinggung, gembira, bahagia, senang, tersanjung.

Dunia anak laki berbeda dengan anak perempuan dengan pengertian anak laki sering kurang reflektif, kurang mampu berpikir ke dalam. Mereka lebih fokus pada tindakan dan hasil, hierarki, dan persaingan.

Kecerdasan Kinestetik

Kecerdasan kinestetik merupakan kecerdasan yang berhubungan dengan kemampuan kita dalam menggunakan tubuh kita secara terampil untuk mengungkapkan ide atau pemikiran dan perasaan, mampu bekerja dengan baik dalam menangani dan memanipulasi obyek. Kecerdasan ini juga meliputi keterampilan fisik dalam bidang koordinasi, keseimbangan, daya tahan, kekuatan, kelenturan, dan kecepatan. Kecerdasan ini sangat menonjol pada diri seorang penari, atlet, pematung, pemusik, aktor, mekanik, dokter bedah, ahli permata.

Integrasi gerakan ke dalam proses pembelajaran akan sangat membantu meningkatkan daya ingat. Karena otak mengingat dan menjangkarkan informasi yang dipelajari dengan memasukkan unsur pengalaman.

Contoh yang mudah adalah bila kita hendak mengajar anak menghapal posisi suatu negara dengan menggunakan peta dunia. Bila sekadar menghapal dengan cara melihat, murid mungkin akan bingung. Untuk membantu murid meningkatkan daya ingatnya, mintalah murid untuk menggambarkan peta itu dalam ukuran yang besar, di lantai, dan minta murid untuk berjalan menuju negara yang anda sebutkan.

Sangat disayangkan, seiring dengan semakin tingginya level pendidikan, maka kemungkinan murid untuk mengakses dan menggunakan kecerdasan ini semakin berkurang. Sangat jarang kita temui praktek pengajaran di kelas yang membolehkan murid bergerak aktif. Murid umumnya diwajibkan untuk duduk manis dengan tangan terlipat di depan dada dan diam saat guru mengajar.

Murid kinestetik, di kelas, dapat diberdayakan dengan menggunakan teknik simulasi, permainan peran, drama, pantomin, perjalanan dan kunjungan ke lingkungan, rehat yang teratur, bermain brain gym.

Kecerdasan Naturalis

Kecerdasan naturalis adalah kemampuan untuk mengenali, membedakan, menggolongkan dan membuat kategori terhadap apa yang dijumpai di alam maupun di lingkungan. Inti dari kecerdasan ini adalah kemampuan manusia untuk mengenali tanaman, hewan dan bagian lain dari alam semesta. Walau pada awalnya kecerdasan ini berkembang sebagai alat untuk manusia dalam berhubungan dengan alam sekitar, perkembangan terakhir dari kecerdasan ini juga meliputi kemampuan untuk membedakan benda buatan manusia seperti mobil, sepatu, pesawat dan perhiasan.

Kita semua menggunakan kecerdasan naturalis saat kita mengenali orang, tanaman, hewan, dan benda yang ada di sekeliling kita. Dengan berinteraksi dengan lingkungan fisik di sekitar kita, kita mengembangkan kepekaan akan hukum sebab akibat. Kita juga dapat mengamati pola-pola dalam interaksi dan perilaku seperti keadaan cuaca dan perubahan-perubahan yang terjadi pada tanaman dan hewan.

Kecerdasan ini berkembang sebagai kebutuhan untuk mempertahan hidup di alam bebas. Dulu saat manusia mempertahankan hidup di alam bebas. Dulu saat manusia hidup dari berburu dan mengumpulkan buah atau tanaman untuk dimakan, manusia harus mengenali keadaan cuaca, jenis hewan yang berbahaya atau tidak, dan jenis tanaman atau buah yang bisa dimakan atau tidak. Saat ini zaman telah berubah. Meskipun demikian, kecerdasan ini tetap terpelihara dengan baik, hanya bentuk aplikasinya yang agak berbeda.

Saat ini kemampuan untuk mengamati, melakukan klasifikasi dan pengelompokan, dapat dilihat pada kegiatan mengumpulkan/mengoleksi prangko, batu permata, mengenali jenis mobil dari jarak jauh, mengumpulkan kartu dan gambar bintang film, juga para pecinta alam atau siapa saja yang sangat suka berada di alam terbuka.

Penggunaan kecerdasan naturlis ini paling terlihat jelas dalam bidang ilmu biologi, botani, zoology, dan entomologi. Ilmu ini mempelajari asal mula, pertumbuhan dan perkembangan, serta struktur makhluk hidup.

Sumber :

Amstrong, Thomas. Sekolah Para Juara. Kaifa, Bandung (2002)

Gunawan, Adi W. Born To Be Genius, Gramedia Pustaka Tama, Jakarta (2003)

______________. Genius Learning Strategi, Gramedia Pustaka Tama, Jakarta (2003)


<< Kembali