Ide Awal menggagas Multiple Inteligence

Pada 1904, Kementerian Pendidikan Prancis di Paris minta psikolog Prancis, Alfred Binet, dan sekelompok psikolog untuk mengembangkan suatu alat untuk menentukan siswa SD yang “beresiko” mengalami kegagalan. Mencari tahu siapa saja anak yang memang benar-benar bermasalah dan tidak mampu mengikuti pelajaran karena alasan “cacat mental” dan siapa yang tidak bisa mengikuti pelajaran karena alasan lain.

Anak-anak yang cacat mental ini nantinya akan ditempatkan di kelas khusus dan mendapat penanganan khusus sesuai dengan kondisi mereka. Tujuannya adalah agar mereka tetap bisa menikmati pendidikan yang layak demi masa depan mereka.

Berangkat dari pemikiran ini, Alfred Binet dkk merancang suatu tes kecerdasan yang dikenal dengan nama tes IQ. Tes ini banyak diadopsi oleh berbagai negara termasuk Indonesia. Tes IQ ini kemudian dijadikan satu-satunya tes yang dapat mengukur tingkat kecerdasan seseorang. Oleh karena itu tes IQ ini seperti menjadi penentu apakah anak itu sukses atau tidak. Hal ini disebabkan adanya anggapan kalau hanya anak yang pintar saja yang akan berhasil atau sukses.

Lalu kemudian timbul efek yang luar biasa terhadap tumbuh kembang anak. Anak yang mempunyai nilai IQ tinggi disebut sebagai anak jenius sedangkan anak yang mempunyai nilai IQ rendah akan dinilai sebagai anak yang bodoh.

Anak yang IQ-nya tinggi akan semakin bersemangat untuk belajar. Karena dirinya yakin kalau dia bisa menguasai materi dengan cepat dan akan menjadi orang yang berhasil di masa depan. Selain itu guru-gurunya juga senang dengan anak ini, karena gurunya punya harapan yang tinggi terhadap anak ini. Sehingga menjadikan anak ini bisa tumbuh dan berkembang dengan maksimal.

Yang mengenaskan adalah anak yang nilai IQ-nya rendah. Dia secara tidak sadar akan mudah putus asa, karena merasa dirinya anak yang bodoh atau biasa-biasa saja. Sehingga mengakibatkan dia suka bermalas-malasan, karena menurut dia percuma belajar toh aku ini anak bodoh dan tidak akan sukses. Lebih lagi pandangan guru sama anak dengan nilai IQ rendah sangat buruk. Guru tidak punya harapan terlalu tinggi terhadap anak ini. Karena percuma saja mengajar anak dengan IQ rendah, materi yang diajarkan tidak akan masuk. Parahnya lagi kalau si guru mengatakan kalau si anak tidak mempunyai masa depan yang cerah. Jadinya gurunya ogah-ogahan mengajar anak ini. Sehingga hasilnya bisa diperkirakan, anak tadi tidak akan bisa tumbuh dan berkembang dengan maksimal.

Delapan puluh tahun setelah tes IQ dikembangkan, Howard Gardner mempersoalkan pengertian kecerdasan yang disebabkan dari hasil tes IQ. Gardner mengatakan bahwa penafsiran kecerdasan di kebudayaan kita sangat sempit. Gardner juga tidak menginginkan anak-anak tidak bisa tumbuh dan berkembang dengan maksimal karena adanya tes IQ. Maka dari itu, Gardner melakukan penelitian tentang kecerdasan bersama teamnya di Harvard Project Zero.Hasilnya, Gardner mengemukakan bahwa sekurang-kurangnya ada tujuh kecerdasan dasar yang dimiliki oleh manusia. Hasil temuannya ini dipublikasikan dalam bukunya yang berjudul frames of mind. Belum lama berselang, dia menambahkan kecerdasan kedelapan dan membahas kemungkinan adanya kecerdasan kesembilan. Teori ini kemudian dikenal dengan multiple intelligence.

Pada intinya, Gardner ingin mengajak kita semua kalau kita tidak boleh menilai kecerdasan anak hanya dari nilai IQ-nya saja. Karena mereka memiliki banyak kecerdasan. Jadi kita tidak boleh menilai anak hanya dari satu kecerdasan saja.


Gardner mengingatkan kita untuk melihat bahwa setiap anak itu unik dan mempunyai kelebihan masing-masing yang tidak sama satu dengan yang lain. Jadi kita jangan sekali-kali membandingkan anak kita dengan orang lain atau membandingkan anak kita dengan saudaranya. Karena dengan begitu kita bisa membangun konsep diri anak dengan baik. Selain itu, gardner juga mengemukakan, terlebih buat guru, untuk mengajar dan menilai kinerja siswanya dengan cara yang berbeda sesuai dengan kecerdasan yang dimiliki oleh siswa. Orang dengan kecerdasan visual akan cepat menangkap materi pelajaran jika disajikan dengan gambar. Orang dengan kecerdasan musikal dominan akan cepat menangkap materi pelajaran jika disajikan dengan musik. Jika kalau kita menggunakan semua kecerdasan dari 8 kecerdasan pada proses belajar mengajar, maka sebetulnya kita sedang memberikan materi dari 8 jalan yang berbeda.

Terakhir, Gardner menganjurkan supaya membebaskan anak untuk mengaktualisasi dirinya. Biarkan mereka untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan minatnya. Karena kalau mereka menekuni hal yang sesuai dengan minatnya, mereka akan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh. Dan akan menghasilkan hasil yang luar biasa.

Contohnya adalah Bill Gate, bos dari Microsoft. Dia dulu sangat minat dengan komputer dan mendalaminya dengan sungguh-sungguh. Hasilnya bisa dilihat sendiri sekarang. Dia sekarang menjadi salah satu orang terkaya di dunia. Dan salah satu hasil karyanya Operating Sistem (OS) Windows, menjadi salah satu OS yang banyak digunakan di dunia terlebih lagi di Indonesia.

Ilustrasi multiple intelligence

Dalam bukunya yang berjudul "In Their Own Way: Discovering and Encouraging Your Child's Multiple Intelligences", Thomas Armstrong mencoba mengilustrasikan teori multiple intelligence dengan cerita menarik tentang sekolah hewan. Ceritanya bisa dibaca dibawah ini :

Pelajaran dari Sekolah Para Hewan

alkisah, terbetiklah sebuah kabar yang menggegerkan langit dan bumi. Kabar itu berasal dari dunia binatang. Menurut cerita, para binatang besar ingin membuat sekolah untuk para binatang kecil. Mereka, para binatang besar itu, berencana menciptakan sebuah sekolah yang di dalamnya akan diajarkan mata pelajaran memanjat, terbang, berlari, berenang, dan menggali.

Anehnya, mereka tidak dapat mengambil kata sepakat tentang subjek mana yang paling penting. Mereka akhirnya memutuskan agar semua murid mengikuti seluruh mata pelajaran yang diajarkan. Jadi, setiap murid harus mengikuti mata pelajaran memanjat, terbang, berlari, berenang, dan menggali.

Sekolah pun dibuka dan menerima murid dari berbagai pelosok hutan. Pada saat-saat awal dikabarkan bahwa sekolah berjalan lancar. Seluruh murid dan pengajar di sekolah itu menikmati segala kebaruan dan keceriaan. Hingga tibalah pada suatu hari yang mengubah keadaan sekolah itu.

Salah satu murid bernama Kelinci. Kelinci jelas adalah binatang yang piawai berlari. Ketika mengikuti kelas berenang, Kelinci ini hampir tenggelam. Pengalaman mengikuti kelas berenang ternyata mengguncang batinnya. Lantaran sibuk mengurusi pelajaran berenang, si Kelinci ini pun tak pernah lagi dapat berlari secepat sebelumnya.

Setelah kasus yang menimpa Kelinci, ada kejadian lain yang cukup memusingkan pengelola sekolah. Ini melanda murid lain bernama Elang. Elang, jelas, sangat pandai terbang. Namun, ketika mengikuti kelas menggali, si Elang ini tidak mampu menjalankan tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Akhirnya, ia pun harus mengikuti les perbaikan menggali. Les itu ternyata menyita waktunya sehingga ia pun lupa cara terbang yang sebelumnya sangat dikuasainya.

Demikianlah, kesulitan demi kesulitan ternyata melanda juga ke diri binatang-binatang lain, seperti bebek, burung pipit, bunglon, ular, dan binatang kecil lain. Para binatang kecil itu tidak mempunyai kesempatan lagi untuk berprestasi dalam bidang keahlian mereka masing-masing. Ini lantaran mereka dipaksa melakukan hal-hal yang tidak menghargai sifat alami mereka.

Dari cerita ini, sebenarnya Thomas amstrong ingin mengatakan kalau tiap anak punya kecerdasan yang unik dan masing-masing anak tidak sama. Kalau kita memaksakan kehendak supaya anak kita bisa menguasai semua materi, maka kita sebenarnya kita menghambat anak kita untuk berkembang sesuai dengan keahliannya. Jadi mari kita bebaskan anak kita untuk mengeksplor dirinya sendiri. Dan biarkan mereka berkembang sesuai dengan minat dan bakat mereka.

Sumber :

Amstrong, Thomas. Sekolah Para Juara. Kaifa, Bandung (2002)

_______________. In Their Own Way: Discovering and Encouraging Your Child's Multiple Intelligences. Tarcher/Putnam, New York (1987)

Gunawan, Adi W. Born To Be Genius. Gramedia Pustaka Tama, Jakarta (2003)

______________. Genius Learning Strategi. Gramedia Pustaka Tama, Jakarta (2003)


<< Kembali

Tidak ada komentar: